Pain
Awan mendung yang aku amati dari jendela ruang tengah , Aku
alihkan pandanganku dari awan mendung untuk menoleh kesegala arah penjuru
rumah. Suram… rumah ini sama seperti awan mendung, pikirku. Aku tertunduk ,
teringat akan serpihan indah masa lalu.
“Ayah, Fika mau pingin berenang. Kesana yuk, kan Fika ngak
pernah berenang lagi.” kataku memelas.
“Iya yah, Ita juga mau. Sekali-sekali kan ngak apa-apa yah.”
“Yaudah, minggu depan kita pergi. Ayah janji.”
“Bener ya yah, ngak bohong yaa?.” Tanya ita dengan mat
berbinar-binar.
Ayah tersenyum “Iya Ayah janji.”
Aku tersenyum sinis, dasar laki-laki pembohong. Semua
janji-janji yang tak pernah jadi kenyataan itu, yang selalu ia ingkari, sampai
saat ini pun masih membuat luka untuk orang-orang.
Aku langkahkan kakiku menuju kamar Ibu, hanya suara sepatu
hak tinggi ku yang mengisi keheningan koridor rumah ini. Tok.. tok.. tok…
Semakin aku berjalan semakin terdengar suara hak tinggi ku. Terlintas
dibenakku, apa rumah ini sudah benar-benar mati? Atau penghuni dirumah ini bisu
semua? Atau mereka mati karna luka yang mereka pendam?.
“Bu.. Ibu?” ku buka pintu kamar dengan perlahan.
Terpancar senyum tulus dengan mata teduh yang memandangku “Sini,
duduk disini dekat Ibu”
“Kenapa? Ada apa?” tanyaku penasaran.
“Apa kamu akan pergi begitu saja? Ibu hanya ingin kamu
berpamitan dulu sama Ayahmu sebelum kamu pergi. Ibu ngak mau kamu jadi anak
durhaka Fik.”
“Bu, sudah bu. Ini yang terbaik buat aku”
“Ibu tau kamu marah sama ayah kamu fika, tapi bagaimanapun
dia tetap ayah kamu."
“Aku udah capek. Dia nyakitin kita, dia sakitin ibu! Aku
ngak tahan, aku mau pergi cepat-cepat dari sini. Aku mau hidup aku normal
seperti yang lain bu, hidup biasa bukan hidup yang penuh sama masalah kayak
gini!” nadaku meninggi aku sadar melihat kepedihan dimata ibu.
“Maafin ibu ya fik, ibu ngak bermaksud maksa kamu. Kalo kamu
ngak mau ngak apa-apa. Ibu juga ngak nyangka hidup ibu seperti ini."
Astagaaa!! Gue ngomong apa barusan?! “ngak bu, ibu ngak
salah. Ayah yang salah, ayah yang buta kenapa dia dengan tololnya lebih milih
perempuan itu dari pada kita. Ayah yang brengsek”
“Yasudah fik, biarkan saja ayahmu itu. Yang terpenting buat
ibu fika sama ita. Kalian mesti buktikan sama ayahmu kalian lebih baik dari
perempuan jalang itu.”
Iya semuanya bertambah hancur karna perempuan itu, perempuan
yang tiba-tiba masuk dalam keluarga kami. Ayah yang selalu berbohong tidak
pernah tau seberapa kecewanya aku dengan tiba-tiba lagi beberapa tahun lalu ia
membawa luka yang lebih besar. Memiliki perempuan simpanan yang ternyata sudah
lama ia pendam, menguras habis uangnya untuk perempuan itu. Apa Ayah buta? Iya,
Ayah buta. Ibu dengan segala kemampuannya bisa dikalahkan dengan perempuan
rendahan seperti itu. Melihat Ibu menangis kencang saat iya tau kelakuan Ayah,
melihat ita Adikku yang paling dekat dengan Ayah ikut mengangis kencang didekat
Ibu. Cuma pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang mereka lontarkan.
“Kenapa Ayah tega?! Kenapa ayah begitu?! Kita salah
apaaa?!!” teriak Ita dengan marahnya.
Aku diam, hanya bisa terdiam. Aku berjalan masuk ke dalam
kamarku, mengurung diri dengan banyak pertanyaan di otakku. Yang kupikirkan
saat itu ketika semua pertanyaan-pertanyaan “kenapa” di otakku, aku harus kuat
untuk ibu dan ita. Aku ngak boleh ikut menangis, aku harus menguatkan mereka.
“Fik,.. Fika?.” ibu menyadarkan ku dari lamunanku.
“Eh, iya Bu.”
“Jangan dipikirkan.” kata ibu seolah tau apa yang aku
lamunkan.
“Iya bu,Fika pamit ya bu. Ibu jaga kesehatann ya. Fika
pergi.” kucium tangan ibu.
“Hati-hati ya fik, sehat terus disana.”
“Ya bu.”
Ku tutup pintu kamar ibu, berjalan meninggalkan rumah ini.
Aku melewati jendela, kulihat awan mendung tak kunjung menjadi cerah. Tampa
sadar aku sudah menghela nafas. Aku pergi… hanya itu yang ingin aku katakan,
meninggalkan semua rasa sesak ini.

