Kamis, 10 Juli 2014

hadapi

apapun yang terjadi, hadapi.. 
walau tak bisa lagi tersenyum 
walau semua mulai terasa amat berat
walau semua mulai terasa menyakitkan 
walau luka tidak kunjung sembuh
hadapi.. 
ketika jatuh , terpuruk
bangunlah lagi walau lelah
mulai lagi , tata kembali 
agar semua menjadi indah 

kau beruntung , aku beruntung 
keberuntungan dengan cara yang berbeda 
manusia yang berbeda-beda masalah
manusia yang berbeda-beda kebahagiaan
aku tau ini bagian dari hidup..

Kamis, 29 Mei 2014

rumah sakit universitas lampung

PROGRAM UNILA


program unila mengenai rumah sakit universitas lampung terhambat dan sekarang masih menunggu selesainya pembangunan.

Jumat, 21 Februari 2014

Pain




Pain



Awan mendung yang aku amati dari jendela ruang tengah , Aku alihkan pandanganku dari awan mendung untuk menoleh kesegala arah penjuru rumah. Suram… rumah ini sama seperti awan mendung, pikirku. Aku tertunduk , teringat akan serpihan indah masa lalu.

Ayah, Fika mau pingin berenang. Kesana yuk, kan Fika ngak pernah berenang lagi.” kataku memelas.  

Iya yah, Ita juga mau. Sekali-sekali kan ngak apa-apa yah.

Yaudah, minggu depan kita pergi. Ayah janji.”

Bener ya yah, ngak bohong yaa?.” Tanya ita dengan mat berbinar-binar. 

Ayah tersenyum “Iya Ayah janji.” 

Aku tersenyum sinis, dasar laki-laki pembohong. Semua janji-janji yang tak pernah jadi kenyataan itu, yang selalu ia ingkari, sampai saat ini pun masih membuat luka untuk orang-orang.
Aku langkahkan kakiku menuju kamar Ibu, hanya suara sepatu hak tinggi ku yang mengisi keheningan koridor rumah ini. Tok.. tok.. tok… Semakin aku berjalan semakin terdengar suara hak tinggi ku. Terlintas dibenakku, apa rumah ini sudah benar-benar mati? Atau penghuni dirumah ini bisu semua? Atau mereka mati karna luka yang mereka pendam?.

Bu.. Ibu?” ku buka pintu kamar dengan perlahan.

Terpancar senyum tulus dengan mata teduh yang memandangku “Sini, duduk disini dekat Ibu

“Kenapa? Ada apa?” tanyaku penasaran. 

Apa kamu akan pergi begitu saja? Ibu hanya ingin kamu berpamitan dulu sama Ayahmu sebelum kamu pergi. Ibu ngak mau kamu jadi anak durhaka Fik.” 

Bu, sudah bu. Ini yang terbaik buat aku” 

Ibu tau kamu marah sama ayah kamu fika, tapi bagaimanapun dia tetap ayah kamu."

Aku udah capek. Dia nyakitin kita, dia sakitin ibu! Aku ngak tahan, aku mau pergi cepat-cepat dari sini. Aku mau hidup aku normal seperti yang lain bu, hidup biasa bukan hidup yang penuh sama masalah kayak gini!” nadaku meninggi aku sadar melihat kepedihan dimata ibu.

Maafin ibu ya fik, ibu ngak bermaksud maksa kamu. Kalo kamu ngak mau ngak apa-apa. Ibu juga ngak nyangka hidup ibu seperti ini."

Astagaaa!! Gue ngomong apa barusan?! “ngak bu, ibu ngak salah. Ayah yang salah, ayah yang buta kenapa dia dengan tololnya lebih milih perempuan itu dari pada kita. Ayah yang brengsek

Yasudah fik, biarkan saja ayahmu itu. Yang terpenting buat ibu fika sama ita. Kalian mesti buktikan sama ayahmu kalian lebih baik dari perempuan jalang itu.”

Iya semuanya bertambah hancur karna perempuan itu, perempuan yang tiba-tiba masuk dalam keluarga kami. Ayah yang selalu berbohong tidak pernah tau seberapa kecewanya aku dengan tiba-tiba lagi beberapa tahun lalu ia membawa luka yang lebih besar. Memiliki perempuan simpanan yang ternyata sudah lama ia pendam, menguras habis uangnya untuk perempuan itu. Apa Ayah buta? Iya, Ayah buta. Ibu dengan segala kemampuannya bisa dikalahkan dengan perempuan rendahan seperti itu. Melihat Ibu menangis kencang saat iya tau kelakuan Ayah, melihat ita Adikku yang paling dekat dengan Ayah ikut mengangis kencang didekat Ibu. Cuma pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang mereka lontarkan. 
Kenapa Ayah tega?! Kenapa ayah begitu?! Kita salah apaaa?!!” teriak Ita dengan marahnya. 

Aku diam, hanya bisa terdiam. Aku berjalan masuk ke dalam kamarku, mengurung diri dengan banyak pertanyaan di otakku. Yang kupikirkan saat itu ketika semua pertanyaan-pertanyaan “kenapa” di otakku, aku harus kuat untuk ibu dan ita. Aku ngak boleh ikut menangis, aku harus menguatkan mereka. 

Fik,.. Fika?.” ibu menyadarkan ku dari lamunanku.

Eh, iya Bu.”

Jangan dipikirkan.” kata ibu seolah tau apa yang aku lamunkan.

Iya bu,Fika pamit ya bu. Ibu jaga kesehatann ya. Fika pergi.” kucium tangan ibu.

Hati-hati ya fik, sehat terus disana.” 

Ya bu.

Ku tutup pintu kamar ibu, berjalan meninggalkan rumah ini. Aku melewati jendela, kulihat awan mendung tak kunjung menjadi cerah. Tampa sadar aku sudah menghela nafas. Aku pergi… hanya itu yang ingin aku katakan, meninggalkan semua rasa sesak ini.

Selasa, 18 Februari 2014

welcome to my blog, please enjoy and keep reading my blog ^^ thankyou for your attention .